Makna Tembang Macapat
Keragaman
kebudayaan daerah memperkaya kebudayaan nasional. Salah satu diantara ratusan
bahkan ribuan budaya daerah di Indonesia adalah tembang macapat. Mungkin bagi
kebanyakan orang macapat kurang menarik untuk dipelajari. Itu dikarenakan perlu
kemampuan yang lebih dalam mempelajarinya baik dari segi teknik maupun bahasanya.
Bahasa yang terkandung dalam masing-masing tembang macapat memiliki makna yang
berbeda-beda. Berikut makna yang terkndung dalam tembang macapat.
1. MIJIL
Mijil artinya lahir. Hasil dari olah jiwa dan
raga laki-laki dan perempuan menghasilkan si jabang bayi. Setelah 9 bulan
lamanya berada di rahim sang ibu, sudah menjadi kehendak Hyang Widhi si jabang
bayi lahir ke bumi. Disambut tangisan membahana waktu pertama merasakan betapa
tidak nyamannya berada di alam mercapadha. Sang bayi terlanjur enak
hidup di zaman dwaparayuga, namun harus netepi titah Gusti
untuk lahir ke bumi. Sang bayi mengenal bahasa universal pertama kali
dengan tangisan memilukan hati. Tangisan yang polos, tulus, dan alamiah
bagaikan kekuatan getaran mantra tanpa
tinulis. Kini orang tua bergembira hati, setelah
sembilan bulan lamanya menjaga sikap dan laku prihatin agar sang rena
(ibu) dan si ponang (bayi) lahir dengan selamat. Puja puji selalu
dipanjat agar mendapat rahmat Tuhan Yang Maha Pemberi Rahmat atas lahirnya si
jabang bayi idaman hati.
2.
MASKUMAMBANG
Setelah lahir si jabang bayi, membuat hati orang
tua bahagia tak terperi. Tiap hari suka ngudang melihat tingkah polah
sang bayi yang lucu dan menggemaskan. Senyum si jabang bayi membuat riang
bergembira yang memandang. Setiap saat sang bapa melantunkan tembang pertanda
hati senang dan jiwanya terang. Takjub memandang kehidupan baru yang sangat
menantang. Namun selalu waspada jangan sampai si ponang menangis dan demam
hingga kejang. Orang tua takut kehilangan si ponang, dijaganya malam dan siang
agar jangan sampai meregang. Buah hati bagaikan emas segantang.
Menjadi tumpuan dan harapan kedua orang tuannya mengukir masa depan. Kelak jika
sudah dewasa jadilah anak berbakti kepada orang tua, nusa dan bangsa.
3. KINANTI
Semula berujud jabang bayi merah merekah, lalu
berkembang menjadi anak yang selalu dikanthi-kanthi kinantenan orang
tuannya sebagai anugrah dan berkah. Buah hati menjadi tumpuan dan harapan. Agar
segala asa dan harapan tercipta, orang tua selalu membimbing dan mendampingi
buah hati tercintanya. Buah hati bagaikan jembatan, yang dapat menyambung dan
mempererat cinta kasih suami istri. Buah hati menjadi anugrah ilahi yang harus
dijaga siang ratri. Dikanthi-kanthi (diarahkan dan dibimbing) agar
menjadi manusia sejati. Yang selalu menjaga bumi pertiwi.
4. SINOM
Sinom isih enom. Jabang bayi berkembang
menjadi remaja sang pujaan dan dambaan orang tua dan keluarga. Manusia yang
masih muda usia. Orang tua menjadi gelisah, siang malam selalu berdoa dan
menjaga agar pergaulannya tidak salah arah. Walupun badan sudah besar namun
remaja belajar hidup masih susah. Pengalamannya belum banyak, batinnya belum
matang, masih sering salah menentukan arah dan langkah. Maka segala tindak
tanduk menjadi pertanyaan sang bapa dan ibu. Dasar manusia masih enom
(muda) hidupnya sering salah kaprah.
5.
DHANDANGGULA
Remaja beranjak menjadi dewasa. Segala lamunan
berubah ingin berkelana. Mencoba hal-hal yang belum pernah dirasa. Biarpun
dilarang agama, budaya dan orang tua, anak dewasa tetap ingin mencobanya. Angan
dan asa gemar melamun dalam keindahan dunia fana. Tak sadar jiwa dan raga menjadi
tersiksa. Bagi anak baru dewasa, yang manis adalah gemerlap dunia dan menuruti
nafsu angkara, jika perlu malah berani melawan orang tua. Anak baru dewasa, remaja
bukan dewasa juga belum, masih sering terperdaya bujukan nafsu angkara
dan nikmat dunia. Sering pula ditakut-takuti api neraka, namun tak akan membuat
sikapnya menjadi jera. Tak mau mengikuti kareping rahsa,
yang ada selalu nguja hawa. Anak dewasa merasa rugi bila tak
mengecap manisnya dunia. Tak peduli orang tua terlunta, yang penting hati senang
gembira. Tak sadar tindak tanduknya bikin celaka, bagi diri sendiri, orang tua
dan keluarga. Cita-citanya setinggi langit, sebentar-sebentar minta duit, tak
mau hidup irit. Jika tersinggung langsung sengit. Enggan berusaha yang penting
apa-apa harus tersedia. Jiwanya masih muda, mudah sekali tergoda api asmara.
Lihat celana saja menjadi bergemuruh rasa di dada. Anak dewasa sering bikin
orang tua ngelus dada. Bagaimanapun juga mereka buah dada hati yang dicinta.
Itulah sebabnya orang tua tak punya rasa benci kepada pujaan hati. Hati-hati
bimbing anak muda yang belum mampu membuka panca indera, salah-salah justru
bisa celaka semuanya.
6. ASMARADANA
Asmaradana atau asmara dahana
yakni api asmara yang membakar jiwa dan raga. Kehidupannya digerakkan oleh motifasi
harapan dan asa asmara. Seolah dunia ini miliknya saja. Membayangkan dirinya
bagaikan sang pujangga atau pangeran muda. Apa yang dicitakan haruslah
terlaksana, tak pandang bulu apa akibatnya. Hidup menjadi terasa semakin hidup
lantaran gema asmara membahana dari dalam dada. Biarlah asmara membakar
semangat hidupnya, yang penting jangan sampai terlena. Jika tidak, akan
menderita dikejar-kejar tanggungjawab hamil muda. Sebaliknya akan hidup mulia
dan tergapai cita-citanya. Maka sudah menjadi tugas orang tua membimbing
mengarahkan agar tidak salah memilih idola. Sebab sebentar lagi akan memasuki
gerbang kehidupan baru yang mungkin akan banyak mengharu biru. Seyogyanya suka
meniru tindak tanduk sang gurulaku, yang sabar membimbing
setiap waktu dan tak pernah menggerutu. Jangan suka berpangku namun pandailah
memanfaatkan waktu. Agar cita-cita dapat dituju. Asmaradana
adalah saat-saat yang menjadi penentu, apakah dirimu akan menjadi orang
bermutu, atau polisi akan memburu dirimu. Salah-salah gagal menjadi menantu,
malah akan menjadi seteru.
7. GAMBUH
Gambuh atau Gampang Nambuh, sikap
angkuh serta acuh tak acuh, seolah sudah menjadi orang yang teguh, ampuh dan
keluarganya tak akan runtuh. Belum pandai sudah berlagak pintar. Padahal
otaknya buyar matanya nanar merasa cita-citanya sudah bersinar. Menjadikannya
tak pandai melihat mana yang salah dan benar. Di mana-mana ingin diakui bak
pejuang, walau hatinya tak lapang. Pahlawan bukanlah orang yang berani mati,
sebaliknya berani hidup menjadi manusia sejati. Sulitnya mencari jati diri
kemana-mana terus berlari tanpa henti. Memperoleh sedikit sudah dirasakan
banyak, membuat sikapnya mentang-mentang bagaikan sang pemenang. Sulit mawas
diri, mengukur diri terlalu tinggi. Ilmu yang didapatkannya seolah menjadi
senjata ampuh tiada tertandingi lagi. Padahal pemahamannya sebatas kata orang.
Alias belum bisa menjalani dan menghayati. Bila merasa ada yang kurang,
menjadikannya sakit hati dan rendah diri. Jika tak tahan ia akan berlari
menjauh mengasingkan diri. Menjadi pemuda pemudi yang jauh dari anugrah ilahi.
Maka, belajarlah dengan teliti dan hati-hati. Jangan menjadi orang yang mudah gumunan
dan kagetan. Bila sudah paham hayatilah dalam setiap perbuatan. Agar
ditemukan dirimu yang sejati sebelum raga yang dibangga-banggakan itu menjadi
mati.
8. DURMA
Munduring tata krama. Dalam cerita
wayang purwa dikenal banyak tokoh dari kalangan “hitam” yang jahat. Sebut
saja misalnya Dursasana, Durmagati,Duryudana. Dalam terminologi Jawa dikenal
berbagai istilah menggunakan suku kata dur/ dura
(nglengkara) yang mewakili makna negatif (awon).
Sebut saja misalnya : duraatmoko, duroko, dursila, dura
sengkara, duracara (bicara buruk), durajaya, dursahasya,
durmala, durniti, durta, durtama, udur,
dst. Tembang Durma, diciptakan untuk mengingatkan
sekaligus menggambarkan keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk atau
jahat. Manusia gemar udur atau cekcok, cari menang dan benernya sendiri, tak
mau memahami perasaan orang lain. Sementara manusia cendrung mengikuti hawa
nafsu yang dirasakan sendiri (nuruti rahsaning karep). Walaupun
merugikan orang lain tidak peduli lagi. Nasehat bapa-ibu sudah tidak digubris
dan dihiraukan lagi. Lupa diri selalu merasa iri hati. Manusia walaupun tidak
mau disakiti, namun gemar menyakiti hati. Suka berdalih niatnya baik, namun tak
peduli caranya yang kurang baik. Begitulah keadaan manusia di planet bumi, suka
bertengkar, emosi, tak terkendali, mencelakai, dan menyakiti. Maka
hati-hatilah, yang selalu eling dan waspadha.
9. PANGKUR
Bila usia telah uzur, datanglah penyesalan.
Manusia menoleh kebelakang (mungkur) merenungkan apa yang dilakukan pada masa
lalu. Manusia terlambat mengkoreksi diri, kadang kaget atas apa yang pernah ia
lakukan, hingga kini yang ada tinggalah menyesali diri. Kenapa dulu tidak
begini tidak begitu. Merasa diri menjadi manusia renta yang hina dina sudah tak
berguna. Anak cucu kadang menggoda, masih meminta-minta sementara sudah
tak punya lagi sesuatu yang berharga. Hidup merana yang dia punya tinggalah
penyakit tua. Siang malam selalu berdoa saja, sedangkan raga tak mampu berbuat
apa-apa. Hidup enggan mati pun sungkan. Lantas bingung mau berbuat apa.
Ke sana-ke mari ingin mengaji, tak tahu jati diri, memalukan seharusnya sudah
menjadi guru ngaji. Tabungan menghilang sementara penyakit kian meradang. Lebih
banyak waktu untuk telentang di atas ranjang. Jangankan teriak lantang, anunya
pun sudah tak bisa tegang, yang ada hanyalah mengerang terasa nyawa hendak
melayang. Sanak kadhang enggan datang, karena ingat ulahnya di masa lalu yang
gemar mentang-mentang. Rasain loh bentar lagi menjadi bathang..!!
10. MEGATRUH
Megat ruh, artinya putusnya nyawa dari
raga. Jika pegat tanpa aruh-aruh. Datanya ajal akan tiba
sekonyong-konyong. Tanpa kompromi sehingga manusia banyak yang disesali.
Sudah terlambat untuk memperbaiki diri. Terlanjur tak paham jati diri.
Selama ini menyembah tuhan penuh dengan pamrih dalam hati, karena takut neraka
dan berharap-harap pahala surga. Kaget setengah mati saat mengerti kehidupan
yang sejati. Betapa kebaikan di dunia menjadi penentu yang sangat berarti.
Untuk menggapai kemuliaan yang sejati dalam kehidupan yang azali abadi. Duh
Gusti, jadi begini, kenapa diri ini sewaktu masih muda hidup di dunia fana,
sewaktu masih kuat dan bertenaga, namun tidak melakukan kebaikan kepada sesama.
Menyesali diri ingat dulu kala telah menjadi durjana. Sembahyangnya rajin namun
tak sadar sering mencelakai dan menyakiti hati sesama manusia. Kini telah tiba
saatnya menebus segala dosa, sedih sekali ingat tak berbekal pahala. Harapan
akan masuk surga, telah sirna tertutup bayangan neraka menganga di depan mata.
Di saat ini manusia baru menjadi saksi mati, betapa penyakit hati menjadi
penentu dalam meraih kemuliaan hidup yang sejati. Manusia tak sadar diri sering
merasa benci, iri hati, dan dengki. Seolah menjadi yang paling benar, apapun
tindakanya ia merasa paling pintar, namun segala keburukannya dianggapnya
demi membela diri. Kini dalam kehidupan yang sejati, sungguh baru bisa
dimengerti, penyakit hati sangat merugikan diri sendiri. Duh Gusti…!
11. POCUNG
Pocung atau pocong adalah orang
yang telah mati lalu dibungkus kain kafan. Itulah batas antara kehidupan mercapadha
yang panas dan rusak dengan kehidupan yang sejati dan abadi. Bagi orang yang
baik kematian justru menyenangkan sebagai kelahirannya kembali, dan merasa
kapok hidup di dunia yang penuh derita. Saat nyawa meregang, rasa bahagia bagai
lenyapkan dahaga mereguk embun pagi. Bahagia sekali disambut dan dijemput para
leluhurnya sendiri. Berkumpul lagi di alam yang abadi azali. Kehidupan baru
setelah raganya mati.
Tak terasa bila diri telah mati. Yang dirasa
semua orang kok tak mengenalinya lagi. Rasa sakit hilang badan menjadi ringan.
Heran melihat raga sendiri dibungkus dengan kain kafan. Sentuh sana
sentuh sini tak ada yang mengerti. Di sana-di sini ketemu orang yang menangisi.
Ada apa kok jadi begini, merasa heran kenapa sudah bahagia dan senang kok masih
ditangisi. Ketemunya para kadhang yang telah lama nyawanya meregang. Dalam
dimensi yang tenang, hawanya sejuk tak terbayang. Kemana mau pergi terasa dekat
sekali. Tak ada lagi rasa lelah otot menegang. Belum juga sadar bahwa diri
telah mati. Hingga beberapa hari barulah sadar..oh jasad ini telah mati. Yang
abadi tinggalah roh yang suci.
Sementara yang durjana, meregang nyawa tiada yang
peduli. Betapa sulit dan sakit meregang nyawanya sendiri, menjadi sekarat yang
tak kunjung mati. Bingung kemana harus pergi, toleh kanan dan kiri semua
bikin gelisah hati. Seram mengancam dan mencekam. Rasa sakit kian terasa
meradang. Walau mengerang tak satupun yang bisa menolongnya. Siapapun yang
hidup di dunia pasti mengalami dosa. Tuhan Maha Tahu dan Bijaksana tak pernah
luput menimbang kebaikan dan keburukan walau sejumput. Manusia baru sadar, yang
dituduh kapir belum tentu kapir bagi Tuhan, yang dianggap sesat belum tentu
sesat menurut Tuhan. Malah-malah yang suka menuduh menjadi
tertuduh. Yang suka menyalahkan justru bersalah. Yang suka mencaci dan menghina
justru orang yang hina dina. Yang gemar menghakimi orang akan tersiksa. Yang
suka mengadili akan diadili. Yang ada tinggalah rintihan lirih tak berarti,
“Duh Gusti pripun kok kados niki…! Oleh sebab itu, hidup kudu jeli, nastiti,
dan ngati-ati. Jangan suka menghakimi orang lain yang tak sepaham dengan diri
sendiri. Bisa jadi yang salah malah pribadi kita sendiri. Lebih baik kita
selalu mawas diri, agar kelak jika mati arwahmu tidak nyasar menjadi memedi.
Semoga bermanfaat. Bagi yang ingin belajar tembang
dolanan, bisa Anda lihat di ajar tembang dolanan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar