Tembang Macapat
Seni sastra
(puisi) Jawa yang berupa tembang itu seyogianya dibaca dengan lagu, walaupun
suara lagunya hanya cukup didengarkannya sendiri agar lebih dijiwai maknanya. Lagu
itu akan terasa penting jika tembang macapat itu dibacakan untuk orang lain.
Dalam macapat misalnya, disamping lagu, perlu diperhatikan kejelasan ucapan
(lafal) kata-katanya, tempo sedang, jeda (pedhotan),
serta andhegan-nya. Dalam hal
tersebut, sekar macapat itu telahn
menjurus ke arah seni tembang atau seni sekar, “vokal art”.
Seni
tembang adalah seni yang dibangun dari bermacam-macam laras, nada sebagai bahannya. Seni tembang Jawa yang berpadu dengan
seni gendhing / seni karawitan disebut seni
sekar gendhing, sedangkan seni suara yang dibangun dari laras gamelan (musical
instrument) sebagai bahan bakunya disebut seni karawitan atau seni
gendhing. Jadi, yang disebut seni suara Jawa itu meliputi tiga macam seni
yaitu :
- seni tembang atau seni sekar
- seni karawitan atau seni gendhing
- seni sekar gendhing
Tembang macapat termasuk dalam
lagu-lagu Jawa yang beriama bebas, yang berarti tidak terikat benar kepada
metrum (matra). Kebebasan irama tembang macapat akan hilang, jika tembang
macapat itu berpadu dengan seni gendhing
atau tembang macapat itu telah masuk ke dalam seni sekar gendhing. Misalnya : dalam sindhenan,gerongan, sulukan, dan rambangan.
Nada yang digunakan dalam seni
tembang Jawa ialah nada yang dimiliki oleh gamelan Jawa, yaitu laras Slendro dan laras Pelog. Demikian pula nada yang digunakan dalam lagu-lagu tembang
macapat ialah laras Slendro dan laras Pelog beserta pathet-pathet-nya.
1. Slendro pathet Nem : 2 3
5 6 1 2
Slendro pathet Sanga : 5 6 1
2 3 5
Slendro pathet Manyura : 6
1 2 3
5 6
2. Pelog pathet Nem : 2 3
(4) 5 6
(7) 1 2
Pelog pathet Lima :
5 6
(7) 1 2
(3) 4 5
Pelog pathet Barang : 6 7 (1)
2 3 (4) 5 6
Not (titinada)
dalam tanda () adalah nada-nada penghias dalam lagu pathet Pelog yang
bersangkutan.
Dikutip dari : Kongres Bahasa Jawa tahun 1991.
![]() |
| Menanamkan cinta budaya sejak anak-anak. |
![]() |
| Jika generasi penerus tidak mencintai budaya sendiri, apa yang akan terjadi ? |
| Awali dengan perasaan senang terhadap budaya dalam berlatih |

