Pages

Selasa, 06 November 2012



Tembang Macapat



            Seni sastra (puisi) Jawa yang berupa tembang itu seyogianya dibaca dengan lagu, walaupun suara lagunya hanya cukup didengarkannya sendiri agar lebih dijiwai maknanya. Lagu itu akan terasa penting jika tembang macapat itu dibacakan untuk orang lain. Dalam macapat misalnya, disamping lagu, perlu diperhatikan kejelasan ucapan (lafal) kata-katanya, tempo sedang, jeda (pedhotan), serta andhegan-nya. Dalam hal tersebut, sekar macapat itu telahn menjurus ke arah seni tembang atau seni sekar, “vokal art”.
            Seni tembang adalah seni yang dibangun dari bermacam-macam laras, nada sebagai bahannya. Seni tembang Jawa yang berpadu dengan seni gendhing / seni karawitan disebut seni sekar gendhing, sedangkan seni suara yang dibangun dari laras gamelan  (musical instrument) sebagai bahan bakunya disebut seni karawitan atau seni gendhing. Jadi, yang disebut seni suara Jawa itu meliputi tiga macam seni yaitu :
  1. seni tembang atau seni sekar
  2. seni karawitan atau seni gendhing
  3. seni sekar gendhing

Tembang macapat termasuk dalam lagu-lagu Jawa yang beriama bebas, yang berarti tidak terikat benar kepada metrum (matra). Kebebasan irama tembang macapat akan hilang, jika tembang macapat itu berpadu dengan seni gendhing atau tembang macapat itu telah masuk ke dalam seni sekar gendhing. Misalnya : dalam sindhenan,gerongan, sulukan, dan rambangan.
Nada yang digunakan dalam seni tembang Jawa ialah nada yang dimiliki oleh gamelan Jawa, yaitu laras Slendro dan laras Pelog. Demikian pula nada yang digunakan dalam lagu-lagu tembang macapat ialah laras Slendro dan laras Pelog beserta pathet-pathet-nya.

1. Slendro pathet Nem             : 2  3  5  6  1  2
    Slendro pathet Sanga          : 5  6  1  2  3  5
    Slendro pathet Manyura     : 6  1  2  3  5  6

2. Pelog pathet Nem               : 2  3  (4)  5  6  (7)  1  2
    Pelog pathet Lima              : 5  6  (7)  1  2  (3)  4  5
    Pelog pathet Barang           : 6  7  (1)  2  3  (4)  5  6

    Not (titinada) dalam tanda () adalah nada-nada penghias dalam lagu pathet Pelog yang  
    bersangkutan.



Dikutip dari : Kongres Bahasa Jawa tahun 1991.

Menanamkan cinta budaya sejak anak-anak.

Jika generasi penerus tidak mencintai budaya sendiri, apa yang akan terjadi ?

Awali dengan perasaan senang terhadap budaya dalam berlatih


Tidak ada komentar:

Posting Komentar